KABEREH NEWS | Aceh Timur, Jumat 21 Maret 2025 – Nasib anak piyatu (anak yang kehilangan ibu) seringkali luput dari perhatian, berbeda dengan anak yatim yang lebih banyak mendapat santunan dan bantuan sosial. Fenomena ini dikritik oleh pemerhati sosial dan aktivis hak asasi manusia, Razali alias Nyakli Maop, yang menyoroti ketidakadilan dalam penyaluran bantuan bagi anak-anak yang kehilangan ibunya.
Saat ditemui media di Kecamatan Darul Aman pada Kamis sore, Razali menegaskan bahwa anak piyatu juga memiliki hak yang sama dalam Undang-Undang negara untuk mendapatkan bantuan dan perhatian. Namun kenyataannya, banyak dari mereka yang hidup dalam kondisi yang lebih sulit karena kehilangan figur ibu sebagai pengasuh utama.
"Di Aceh Timur saja, ada lebih dari seratus anak piyatu yang seharusnya mendapatkan perhatian. Tapi realitanya, mereka terabaikan. Bantuan sering hanya mengalir untuk anak yatim, sementara anak piyatu seperti tidak dianggap," ujar Razali dengan nada kecewa.
Lutfi, Potret Pilu Anak Piyatu yang Terlupakan
Salah satu kisah yang mencerminkan ketidakadilan ini adalah Lutfi, seorang bocah yang kehilangan ibunya dan kini diasuh oleh neneknya yang sudah renta. Sejak sang ibu meninggal, ayah Lutfi menghilang entah ke mana, meninggalkan anaknya tanpa kejelasan. Namun, meskipun hidup dalam keterbatasan, Lutfi tidak pernah mendapatkan perhatian dari pemerintah desa maupun kecamatan.
"Sekolah saja tidak ada yang peduli. Siapa yang memperhatikan masa depan mereka? Neneknya pun hidup dalam serba kekurangan," ucap Razali dengan nada geram.
Menurutnya, kondisi seperti ini bukan hanya dialami oleh Lutfi, tapi oleh banyak anak piyatu lainnya yang terpaksa bertahan hidup tanpa bimbingan orang tua dan tanpa dukungan yang cukup dari masyarakat maupun pemerintah.
Desakan untuk DPRK dan Dermawan
Razali mendesak pemerintah, para dermawan, dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) untuk tidak menutup mata terhadap penderitaan anak piyatu. Ia menegaskan bahwa anak-anak ini berhak mendapatkan bantuan dan pendidikan yang layak, agar mereka tidak semakin terpuruk dalam kemiskinan dan keterasingan.
"Anak piyatu juga bagian dari generasi penerus. Kita harus memastikan bahwa mereka tidak hanya dipandang sebelah mata. Jika memungkinkan, berikan mereka bantuan yang layak," tutur pria yang akrab disapa Nyakli Maop.
Fenomena ini menjadi tamparan bagi pihak-pihak yang selama ini lebih mengutamakan anak yatim dalam program bantuan sosial, sementara anak piyatu harus berjuang sendiri tanpa ada jaminan kehidupan yang layak.
Kini, masyarakat berharap pemerintah tidak hanya sekadar mendengar, tapi juga bertindak. Akan kah ada perubahan, atau anak-anak piyatu akan terus hidup dalam bayang-bayang ketidakpedulian?(Ayahdidien)
Posting Komentar